Subhanallah, Cerita Inspiratif dari seorang yang memuliakan ibu nya serta pada akhirnya di beri kelancaran dalam semua masalah rejeki serta pekerjaannya.
Malam sudah larut serta sebentar lagi pagi akan tiba. Saya masih tetap larut lihat perubahan bursa di New York. Dari tadi siang saya malas buka e-mail lantaran lihat perubahan pasar yang makin lebih buruk. Keliatannya hari hari kedepan tidak ada lagi yang dapat diinginkan terkecuali bertahan dalam kondisi tidak baik. Rekan menyampaikan dalam gurauan kepadaku bahwa ini waktunya kita surfing di atas gelombang ganas. Lihatlah tidak banyak yang dapat selamat namun ini tantangan untuk menguji siapa yang qualified melalui putaran saat. SMS datang” telah baca e-mail dari Kedutaan? Anda diundang untuk datang menghadap Raja mereka” saya terperanjat. Bersegera saya buka e-mail. Benarlah, e-mail ini datang dari tadi siang. Terbayang usaha nyaris 1/2 th. untuk memperoleh clients mungkin saat ini kesempatan terbuka karenanya ada undangan untuk presentasi. Walaupun kemungkinan sukses masih tetap sangatlah jauh tetapi sekurang-kurangnya ini titik awal untuk suatu harapan. Akupun bersegera buka file presentasi untuk mempertajam materi serta menaikkan sedikit bahan sesuai sama hasil penelitian canggih.
Malam sudah larut serta sebentar lagi pagi akan tiba. Saya masih tetap larut lihat perubahan bursa di New York. Dari tadi siang saya malas buka e-mail lantaran lihat perubahan pasar yang makin lebih buruk. Keliatannya hari hari kedepan tidak ada lagi yang dapat diinginkan terkecuali bertahan dalam kondisi tidak baik. Rekan menyampaikan dalam gurauan kepadaku bahwa ini waktunya kita surfing di atas gelombang ganas. Lihatlah tidak banyak yang dapat selamat namun ini tantangan untuk menguji siapa yang qualified melalui putaran saat. SMS datang” telah baca e-mail dari Kedutaan? Anda diundang untuk datang menghadap Raja mereka” saya terperanjat. Bersegera saya buka e-mail. Benarlah, e-mail ini datang dari tadi siang. Terbayang usaha nyaris 1/2 th. untuk memperoleh clients mungkin saat ini kesempatan terbuka karenanya ada undangan untuk presentasi. Walaupun kemungkinan sukses masih tetap sangatlah jauh tetapi sekurang-kurangnya ini titik awal untuk suatu harapan. Akupun bersegera buka file presentasi untuk mempertajam materi serta menaikkan sedikit bahan sesuai sama hasil penelitian canggih.

Pagi pagi saya bersama team telah ada di Airport untuk terbang penuhi undangan. Dijadwalkan, setiba dibandara saya bakal dijemput oleh asisten kerajaan. Lalu bakal diantar ke tempat istirahat kerajaan sembari menanti jadwal pertemuan spesial dengan Raja. Sesudah pertemuan dengan Raja, jadi esok harinya dijadwalkan untuk menghadiri presentasi dengan petinggi berkenaan. Penerbangan first class itu sangatlah nyaman. Di dalam pesawat saya berupaya membaca indicator canggih ekonomi serta social Negara yang bakal saya kunjungi itu. Saat mendarat, cuaca cukup cerah. Petinggi yang menjemput kami terlihat tersenyum ramah membawa kami ke limosine untuk menuju hotel. Sesampai di Holel Kerajaan, petinggi itu memberi peluang kami untuk istirahat serta dia segera kembali kekantornya. Petinggi itu berpesan bahwa besok jadwal pertemuanku dengan Raja. Cuma saya saja tanpa ada didampingi team. Jam 7 malam jemputan bakal hingga dihotel untuk acara makan malam jam 8 berbarengan Raja. Saya mengangguk.
Saya bekerja berbarengan team hingga mendekati subuh untuk memantapkan semua persiapan. Sesudah sholat subuh saya pilih untuk istirahat serta tidur. Begitupula dengan team yang lain. Saat sebelum pergi tidur, telp cellularku bordering.
“ Pah” suara istriku diseberang.
“ Ya” Saya menangkap ada suatu hal dirumah. Lantaran tak seperti biasanya instriku menelphone sepagi ini.
“ Ayah, tenang saja. “
“ Ya tenang, Ada apa “
“ Bunda, karena serangan jantung ringan. ”
“ Saat ini Bunda ada di mana?
“ Dirumah sakit. Ibu dampingi bunda selalu. Kata doctor keadaannya telah lebih baik. Ayah tenang saja. Adik adik seluruhnya ada di sini kumpul. Bunda di bawah perawatan dokter paling baik. Kita berdoa saja semoga situasi bunda makin lebih baik. “
Berkesan bagiku, istri berupaya menentramkan saya bahwa situasi bunda baik baik saja namun diapun tak dapat menyembunyikan kekawatiran bakal situasi bunda. Selesai terima telephone itu, batinku menekanku untuk selekasnya pulang. Namun bagaimanakah dengan gagasan kunjungan ini. Bagaimanakah perasaan teamku apabila pertemuan ini tidak berhasil lantaran saya mesti selekasnya pulang. Terlebih perjuangan memperoleh clients ini telah berjalan kian lebih 1/2 th.. Tetapi hatiku tak dapat tenang dengan semua pemikiran perihal hari esok usahaku. Saya cuma pikirkan perihal hari ini di mana bunda tengah sakit serta saya mesti ada disebelahnya.
“ Apakah itu tak dapat ditunda lusa saja atau besok saja sesudah anda bersua dengan raja” kata satu diantara teamku. Dia bisa menyadari sikapku tetapi dia juga meminta kebijakanku masalah keberlangsungan business kami.
“ Ibu saya sakit serta ini tak sederhana. Saya tak dapat memaafkan diriku apabila saya hingga tunda pulang. “ Kataku dengan muka bingung. Saya terduduk sembari menyeka kepala. Bayanganku selalu pada bunda.
“ Namun bagaimanakah dengan rencana kita “
Maafkan aku…” Kataku menatapkanya dengan muka sesal, Mengharapkan teamku bisa menyadari. Semua anggota team terdiam. Pada akhirnya satu diantara mereka berkata “ Anda benar.! Bila demikian kita putuskan pulang hari ini. “ Kata mereka dengan tersenyum seolah berupaya menutupi situasi posisiku supaya tak terasa bersalah lantaran keputusanku untuk pulang
Jam 8 pagi saya menelponepejabat penghubung kami dengan kerajaan serta mengemukakan argumen kami untuk pulang.
“ Yang perlu anda kenali bahwa tak pernah satu kalipun Raja kami dibatalkan pertemuannya oleh orang lain. Ini penghinaan. Sikap protokoler istana akan sangat keras. “
“ Kenapa? “
“ Anda telah sepakat untuk datang serta saat ini mendadak anda batalkan sepihak lantaran argumen yg tidak masuk akal”
“ Ini masalah ibu saya. ”
Petinggi itu cuma terdiam dengan muka berkesan marah.
“ Maafkan kami. Seluruhnya akomodasi serta ticket yang telah kerajaan mengeluarkan bakal kami ubah. Ini kekeliruan kami serta kami bakal membayar kekeliruan itu. ” kataku
“ Reputasi anda akan hancur” Kata pejabat itu dengan suara mengancam.
“ Kami sadar bakal itu. Sekali lagi maafkan kami”
Terlihat pejabat itu bicara lewat telp dengan suara penuh hormat.
“ Tadi berusan saja pangeran bebricara dengan saya serta ia sangatlah geram lantaran pembatalan pertemuan ini. “ Kata pejabat itu.
“ Apakah saya dapat bicara dengan beliau”
“ Tak perlu. “ tuturnya tegas serta jengkel.
Saya bersama team pergi menuju bandara. Gagasannya. saya segera pulang ke Jakarta. Sesaat teamku kembali pada Hong Kong. Sesampai dibandara, terlihat sekuriti sangatlah ketat. Supir taksi yang kami tumpangi menyampaikan bahwa Raja datang ke Bandara. Kami sangat terpaksa turun agak jauh dari gate keberangkatan. Saat saya berbarengan team mengambil langkah menuju bandara keberangkatan, satu diantara petinggi yang mengetahui kami bersegera lari kearah kami. Dengan ramah petinggi itu berkata” raja mau bersua dengan kamu”. Saya mengangguk dengan mengambil langkah agak sangsi ikuti petinggi itu keruang VVIP.
Saat melalui kuridor bandara seseorang petugas mengambil passportku dengan ramah. Saya selalu mengambil langkah dalam perasaan penuh bertanya. Ada apa kiranya ini?. Saat pintu ruang VVIP terbuka, terlihat sang Raja didampingi putra mahkota tersenyum ramah kearahku. Tanpa ada sungkan dia memelukku sembari mencium pipiku.
“ Saya mendengar berita bahwa ibunda anda sakit serta anda mesti selekasnya pulang. Apakah benar itu?
“ Maafkan saya ya yang mulia. Bukanlah punya maksud tak menghormati undangan Yang Mulia namun situasi ibu memanglah membutuhkan kehadiranku disebelahnya. ”
“ Pulanglah. Masalah dunia ini tak utama. Memuliakan ibu yaitu memuliakan Allah. Tidak ada beribadah paling baik di dunia ini terkecuali berbakti pada ibu. Berikan salam saya pada ibu anda. Doa saya bakal menyertainya. ” Kata kata itu meluncur demikian sejuknya. Saya hingga terharu. DIhadapanku ada seseorang raja yang kaya raya serta dihormati namun masih tetap lebih menghormati seseorang ibu.
“ Terimakasih ya Yang Mulia”
“ Saya yang perlu berterimakasih kepadamu. Lantaran melalui momen ini, saya dapat memberi pelajaran bernilai pada putra saya. Bahwa tidak utama berapakah kesempatan business yang bakal dicapai tetapi apabila waktunya datang untuk memuliakan orangtua jadi tersebut yang lebih diprioritaskan. ‘ kata Raja itu sembari memandang kearah putra mahkotanya.
Selesai pertemuan itu, saya berbarengan petinggi penghubung kerajaan keluar ruang VVIP menuju bandara keberangkatan. Petinggi itu berkata” Yang Mulia Raja meminta anda pulang dengan jet pribadinya. Sesaat team anda terus di sini untuk meneruskan pertemuan dengan petinggi berkenaan. Raja juga sudah mengambil keputusan untuk pilih perusahaan anda juga sebagai mitra kami. Selamat. “
Anggota team saya terlihat berlinang air mata saat mendengar kata kata itu. “ Apabila kita muliankan ibu jadi Allah bakal memuliakan kita. Pasti yang susah jadi gampang, yang sempit jadi lega. Anda benar serta kami yakin sikap anda. “ kata satu diantara anggota team saya sembari memeluk saya.
Saat hingga di bandara, saya segera ke rumah sakit. Setiba dirumah sakit, istriku telah menanti serta membawaku keruangan bunda dirawat. Kucium kening bunda serta terlihat matanya terbuka, Bunda tersenyum” Kaukah itu nak? “
“ Ya, bunda. ”
“ Siapa yang katakan bunda sakit. Bunda engga apa apa. ” Bunda melihat kearah istriku “ Janganlah kau ganggu anakku bekerja. Masalah begini tidak perlulah diberitakan. Kau pikir gampang untuk kembali dari luar negeri kesini. Lagian di sana dia tak main main. Dia kerja. “ Bunda mengomeli istriku. Tersebut bunda, dalam situasi apa pun beliau terus tidak mau bikin anaknya ribet. Andaikata tangannya masih tetap kokoh, langkahnya masih tetap kuat itu bakal senantiasa digunakannya untuk menuntun anak anaknya mengambil langkah tegar dalam ketertatihan. Senandungnya selalu terdengar mengantar anaknya tidur bahwa besok bakal senantiasa baik baik saja, serta bunda bakal senantiasa ada disampingmu, nak…
Saya bekerja berbarengan team hingga mendekati subuh untuk memantapkan semua persiapan. Sesudah sholat subuh saya pilih untuk istirahat serta tidur. Begitupula dengan team yang lain. Saat sebelum pergi tidur, telp cellularku bordering.
“ Pah” suara istriku diseberang.
“ Ya” Saya menangkap ada suatu hal dirumah. Lantaran tak seperti biasanya instriku menelphone sepagi ini.
“ Ayah, tenang saja. “
“ Ya tenang, Ada apa “
“ Bunda, karena serangan jantung ringan. ”
“ Saat ini Bunda ada di mana?
“ Dirumah sakit. Ibu dampingi bunda selalu. Kata doctor keadaannya telah lebih baik. Ayah tenang saja. Adik adik seluruhnya ada di sini kumpul. Bunda di bawah perawatan dokter paling baik. Kita berdoa saja semoga situasi bunda makin lebih baik. “
Berkesan bagiku, istri berupaya menentramkan saya bahwa situasi bunda baik baik saja namun diapun tak dapat menyembunyikan kekawatiran bakal situasi bunda. Selesai terima telephone itu, batinku menekanku untuk selekasnya pulang. Namun bagaimanakah dengan gagasan kunjungan ini. Bagaimanakah perasaan teamku apabila pertemuan ini tidak berhasil lantaran saya mesti selekasnya pulang. Terlebih perjuangan memperoleh clients ini telah berjalan kian lebih 1/2 th.. Tetapi hatiku tak dapat tenang dengan semua pemikiran perihal hari esok usahaku. Saya cuma pikirkan perihal hari ini di mana bunda tengah sakit serta saya mesti ada disebelahnya.
“ Apakah itu tak dapat ditunda lusa saja atau besok saja sesudah anda bersua dengan raja” kata satu diantara teamku. Dia bisa menyadari sikapku tetapi dia juga meminta kebijakanku masalah keberlangsungan business kami.
“ Ibu saya sakit serta ini tak sederhana. Saya tak dapat memaafkan diriku apabila saya hingga tunda pulang. “ Kataku dengan muka bingung. Saya terduduk sembari menyeka kepala. Bayanganku selalu pada bunda.
“ Namun bagaimanakah dengan rencana kita “
Maafkan aku…” Kataku menatapkanya dengan muka sesal, Mengharapkan teamku bisa menyadari. Semua anggota team terdiam. Pada akhirnya satu diantara mereka berkata “ Anda benar.! Bila demikian kita putuskan pulang hari ini. “ Kata mereka dengan tersenyum seolah berupaya menutupi situasi posisiku supaya tak terasa bersalah lantaran keputusanku untuk pulang
Jam 8 pagi saya menelponepejabat penghubung kami dengan kerajaan serta mengemukakan argumen kami untuk pulang.
“ Yang perlu anda kenali bahwa tak pernah satu kalipun Raja kami dibatalkan pertemuannya oleh orang lain. Ini penghinaan. Sikap protokoler istana akan sangat keras. “
“ Kenapa? “
“ Anda telah sepakat untuk datang serta saat ini mendadak anda batalkan sepihak lantaran argumen yg tidak masuk akal”
“ Ini masalah ibu saya. ”
Petinggi itu cuma terdiam dengan muka berkesan marah.
“ Maafkan kami. Seluruhnya akomodasi serta ticket yang telah kerajaan mengeluarkan bakal kami ubah. Ini kekeliruan kami serta kami bakal membayar kekeliruan itu. ” kataku
“ Reputasi anda akan hancur” Kata pejabat itu dengan suara mengancam.
“ Kami sadar bakal itu. Sekali lagi maafkan kami”
Terlihat pejabat itu bicara lewat telp dengan suara penuh hormat.
“ Tadi berusan saja pangeran bebricara dengan saya serta ia sangatlah geram lantaran pembatalan pertemuan ini. “ Kata pejabat itu.
“ Apakah saya dapat bicara dengan beliau”
“ Tak perlu. “ tuturnya tegas serta jengkel.
Saya bersama team pergi menuju bandara. Gagasannya. saya segera pulang ke Jakarta. Sesaat teamku kembali pada Hong Kong. Sesampai dibandara, terlihat sekuriti sangatlah ketat. Supir taksi yang kami tumpangi menyampaikan bahwa Raja datang ke Bandara. Kami sangat terpaksa turun agak jauh dari gate keberangkatan. Saat saya berbarengan team mengambil langkah menuju bandara keberangkatan, satu diantara petinggi yang mengetahui kami bersegera lari kearah kami. Dengan ramah petinggi itu berkata” raja mau bersua dengan kamu”. Saya mengangguk dengan mengambil langkah agak sangsi ikuti petinggi itu keruang VVIP.
Saat melalui kuridor bandara seseorang petugas mengambil passportku dengan ramah. Saya selalu mengambil langkah dalam perasaan penuh bertanya. Ada apa kiranya ini?. Saat pintu ruang VVIP terbuka, terlihat sang Raja didampingi putra mahkota tersenyum ramah kearahku. Tanpa ada sungkan dia memelukku sembari mencium pipiku.
“ Saya mendengar berita bahwa ibunda anda sakit serta anda mesti selekasnya pulang. Apakah benar itu?
“ Maafkan saya ya yang mulia. Bukanlah punya maksud tak menghormati undangan Yang Mulia namun situasi ibu memanglah membutuhkan kehadiranku disebelahnya. ”
“ Pulanglah. Masalah dunia ini tak utama. Memuliakan ibu yaitu memuliakan Allah. Tidak ada beribadah paling baik di dunia ini terkecuali berbakti pada ibu. Berikan salam saya pada ibu anda. Doa saya bakal menyertainya. ” Kata kata itu meluncur demikian sejuknya. Saya hingga terharu. DIhadapanku ada seseorang raja yang kaya raya serta dihormati namun masih tetap lebih menghormati seseorang ibu.
“ Terimakasih ya Yang Mulia”
“ Saya yang perlu berterimakasih kepadamu. Lantaran melalui momen ini, saya dapat memberi pelajaran bernilai pada putra saya. Bahwa tidak utama berapakah kesempatan business yang bakal dicapai tetapi apabila waktunya datang untuk memuliakan orangtua jadi tersebut yang lebih diprioritaskan. ‘ kata Raja itu sembari memandang kearah putra mahkotanya.
Selesai pertemuan itu, saya berbarengan petinggi penghubung kerajaan keluar ruang VVIP menuju bandara keberangkatan. Petinggi itu berkata” Yang Mulia Raja meminta anda pulang dengan jet pribadinya. Sesaat team anda terus di sini untuk meneruskan pertemuan dengan petinggi berkenaan. Raja juga sudah mengambil keputusan untuk pilih perusahaan anda juga sebagai mitra kami. Selamat. “
Anggota team saya terlihat berlinang air mata saat mendengar kata kata itu. “ Apabila kita muliankan ibu jadi Allah bakal memuliakan kita. Pasti yang susah jadi gampang, yang sempit jadi lega. Anda benar serta kami yakin sikap anda. “ kata satu diantara anggota team saya sembari memeluk saya.
Saat hingga di bandara, saya segera ke rumah sakit. Setiba dirumah sakit, istriku telah menanti serta membawaku keruangan bunda dirawat. Kucium kening bunda serta terlihat matanya terbuka, Bunda tersenyum” Kaukah itu nak? “
“ Ya, bunda. ”
“ Siapa yang katakan bunda sakit. Bunda engga apa apa. ” Bunda melihat kearah istriku “ Janganlah kau ganggu anakku bekerja. Masalah begini tidak perlulah diberitakan. Kau pikir gampang untuk kembali dari luar negeri kesini. Lagian di sana dia tak main main. Dia kerja. “ Bunda mengomeli istriku. Tersebut bunda, dalam situasi apa pun beliau terus tidak mau bikin anaknya ribet. Andaikata tangannya masih tetap kokoh, langkahnya masih tetap kuat itu bakal senantiasa digunakannya untuk menuntun anak anaknya mengambil langkah tegar dalam ketertatihan. Senandungnya selalu terdengar mengantar anaknya tidur bahwa besok bakal senantiasa baik baik saja, serta bunda bakal senantiasa ada disampingmu, nak…